Mediatamanews | Tangerang (Banten) – Kenaikan harga berbagai komoditas pangan mulai menekan usaha pedagang kecil di Kota Tangerang, Banten. Pedagang sayur di Pasar Anyar hingga pengusaha warung tegal (warteg) mengeluhkan lonjakan harga bahan baku yang berdampak pada penurunan omzet, penyusutan keuntungan, dan melemahnya daya beli masyarakat.
Di tengah kenaikan biaya belanja, para pedagang menghadapi dilema. Mereka harus menanggung mahalnya harga bahan baku, tetapi tidak leluasa menaikkan harga jual karena khawatir kehilangan pelanggan. Sejumlah pedagang pun memilih mengurangi jumlah barang yang dibeli pelanggan atau memangkas keuntungan agar usaha tetap bertahan.
Pedagang sayur di Pasar Anyar Kota Tangerang, Kholifah, mengatakan kenaikan harga terjadi pada hampir seluruh komoditas yang dijualnya dalam beberapa hari terakhir. Menurut dia, lonjakan harga tersebut dipengaruhi berkurangnya pasokan dari pemasok akibat kemarau panjang dan gagal panen.
Harga cabai rawit merah yang sebelumnya Rp60 ribu per kilogram kini mencapai Rp90 ribu. Cabai rawit hijau naik dari Rp50 ribu menjadi Rp70 ribu per kilogram, sedangkan cabai keriting merah melonjak dari Rp40 ribu menjadi Rp75 ribu per kilogram.
Kenaikan juga terjadi pada komoditas lainnya. Harga tomat dan mentimun naik dari Rp13 ribu menjadi Rp18 ribu per kilogram. Lemon meningkat dari Rp30 ribu menjadi Rp40 ribu, sedangkan jeruk nipis naik dari Rp25 ribu menjadi Rp35 ribu per kilogram.
Sementara itu, harga sawi hijau atau caisim melonjak dari Rp3 ribu menjadi Rp8 ribu per kilogram. Sawi putih naik dari Rp10 ribu menjadi Rp15 ribu, sedangkan kol meningkat dari Rp10 ribu menjadi Rp13 ribu per kilogram.
Kholifah mengungkapkan, kenaikan harga tersebut berdampak pada penurunan omzet dagangannya hingga lebih dari 20 persen. Pelanggan yang sebelumnya membeli satu kilogram sayuran kini hanya membeli setengah kilogram. Pembeli yang biasanya membeli tiga kilogram pun mengurangi belanjaannya menjadi satu kilogram.
“Sekarang semua harga naik. Omzet menurun drastis sekitar 20 persen. Kalau kondisi seperti ini terus, pedagang tentu kesulitan. Pelanggan juga mengurangi jumlah belanjaannya,” ujar Kholifah.

Tekanan serupa dirasakan Andini, pedagang warteg di Jalan Darussalam II, Kecamatan Batuceper, Kota Tangerang. Ia mengatakan harga sejumlah kebutuhan memasak, mulai dari beras, minyak goreng, bawang putih, kemiri hingga serai, mengalami kenaikan sehingga biaya operasional usahanya semakin besar.
Harga minyak goreng yang biasa dibelinya Rp14 ribu kini menjadi Rp19 ribu. Sementara itu, harga beras yang sebelumnya Rp600 ribu per 50 kilogram naik menjadi Rp750 ribu.
Di tengah meningkatnya biaya bahan baku, Andini mengaku kesulitan menaikkan harga makanan karena khawatir pelanggan beralih ke warteg lain. Ia memilih menyesuaikan porsi makanan agar pengeluaran tetap terkendali tanpa mengurangi bumbu masakan yang memengaruhi cita rasa.
Pilihan tersebut bukan tanpa konsekuensi. Jika harga makanan dinaikkan, pelanggan dikhawatirkan berkurang. Namun, apabila kualitas rasa diturunkan, pelanggan berpotensi kecewa.
“Kalau harga dinaikkan, kasihan pelanggan. Kalau bumbu dikurangi, rasanya jadi tidak enak. Akhirnya saya mengurangi keuntungan. Biasanya bisa mendapat Rp300 ribu, sekarang paling sekitar Rp200 ribu,” kata Andini.
Kondisi tersebut menunjukkan tekanan berlapis yang dihadapi pedagang kecil akibat kenaikan harga pangan. Selain harus menanggung biaya bahan baku yang lebih tinggi, mereka juga menghadapi penurunan jumlah pembelian masyarakat yang berdampak langsung pada pendapatan harian.
Para pedagang berharap pemerintah mengambil langkah konkret untuk mengendalikan harga komoditas pangan dan menjaga ketersediaan pasokan di pasar. Stabilitas harga dinilai penting agar kebutuhan pokok tetap terjangkau, daya beli masyarakat terjaga, dan usaha kecil dapat terus bertahan.
Bagi pedagang sayur dan pengusaha warteg, stabilitas harga pangan bukan sekadar persoalan biaya belanja, melainkan juga menyangkut keberlangsungan usaha serta kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari.
(Hasnoe | Ian Rasya)
