Selasa, Oktober 20, 2026

Kabut Asap Karhutla Ganggu Penerbangan di Kalimantan, AirNav Perketat Pemantauan Ruang Udara

Must read

Mediatama News
Mediatama News
Mediatamanews.com adalah Portal Berita Utama yang Terkini dan Terpercaya, menyajikan pilihan berita-berita yang Aktual, Cepat dan Berimbang. Mediatamanews.com hadir dengan nuansa yang harmoni, humanis dan memberikan warna kepada setiap para pembacanya. Mediatamanews.com merupakan Portal Berita Nasional yang berintegritas dan Profesional dalam mengedepankan Kode Etik Jurnalistik.

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Kalimantan mulai mengganggu aktivitas penerbangan. Kondisi tersebut mendorong AirNav Indonesia meningkatkan pemantauan ruang udara, khususnya terhadap perubahan jarak pandang dan kondisi meteorologi yang berpotensi memengaruhi keselamatan penerbangan.

Direktur Utama AirNav Indonesia, Capt. Avirianto Suratno, mengatakan pemantauan dilakukan secara berkelanjutan mengingat kondisi atmosfer dan jarak pandang dapat berubah dengan cepat.

Menurut Avirianto, informasi mengenai kondisi ruang udara harus tersedia secara cepat dan akurat sebagai dasar bagi pilot dan maskapai dalam menentukan keputusan operasional.

“Keselamatan penerbangan adalah prioritas utama kami. Dalam menghadapi kondisi kabut asap seperti saat ini, AirNav Indonesia terus melakukan pemantauan terhadap kondisi ruang udara, termasuk perubahan jarak pandang, kondisi cuaca, serta informasi meteorologi lainnya,” ujar Avirianto.

Berdasarkan hasil pemantauan hingga Rabu (2/9) pukul 11.57 WIB, Pontianak, Kalimantan Barat, menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak kabut asap.

Jarak pandang di wilayah tersebut anjlok hingga sekitar 600 meter. Kondisi itu menyebabkan seluruh penerbangan terdampak keterlambatan. Bahkan, satu penerbangan dengan rute Jakarta-Pontianak harus melakukan return to base (RTB) atau kembali ke bandara keberangkatan.

Sementara itu, aktivitas penerbangan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, masih berlangsung normal. Jarak pandang di wilayah tersebut berada di kisaran 3.500 meter sehingga masih dinilai aman untuk mendukung operasional penerbangan.

Kalimantan Utara Sempat Alami Penurunan Visibilitas

Dampak kabut asap juga sebelumnya dirasakan di wilayah Kalimantan Utara. Pada Selasa (1/9), jarak pandang di Bandara Juwata, Tarakan, sempat turun ke kisaran 1.000 hingga 5.000 meter.

Kondisi tersebut menyebabkan satu penerbangan harus dialihkan (divert) ke bandara terdekat, sementara tiga penerbangan lainnya mengalami penundaan.

Gangguan serupa terjadi di sejumlah bandara perintis di Kalimantan. Di Malinau, jarak pandang sempat turun hingga sekitar 2.000 meter sehingga satu penerbangan perintis harus dialihkan.

Kondisi lebih ekstrem terjadi di Bandara Long Apung. Jarak pandang di bandara tersebut hanya berkisar 150-300 meter. Sementara di Bandara Tanjung Harapan, visibilitas berada pada kisaran 400-1.000 meter.

Namun, AirNav mencatat kondisi di Kalimantan Utara mulai membaik pada Rabu (2/9). Jarak pandang di wilayah tersebut meningkat menjadi sekitar 3.000-5.000 meter.

Dok.istimewa

AirNav Pantau Dampak Erupsi Gunung Sinabung

Selain kabut asap akibat karhutla, AirNav Indonesia juga melakukan pemantauan terhadap potensi gangguan penerbangan akibat aktivitas erupsi Gunung Sinabung di Sumatra Utara.

Avirianto mengatakan operasional penerbangan di Bandara Kualanamu pada Rabu kembali berjalan normal. Berdasarkan hasil pemantauan, tidak terdapat abu vulkanik yang menutupi jalur penerbangan.

AirNav Indonesia memastikan pemantauan kondisi ruang udara dilakukan secara menyeluruh, baik terhadap faktor cuaca, kabut asap, maupun potensi gangguan lainnya.

Jika ditemukan kondisi yang berpotensi mengganggu keselamatan penerbangan, AirNav akan segera menyampaikan informasi kepada pilot dan maskapai sesuai dengan prosedur yang berlaku.

“Pemantauan dilakukan secara menyeluruh untuk memastikan seluruh ruang udara aman untuk dilintasi. Jika ada potensi gangguan apa pun, sesuai prosedur, kami akan secepatnya merilis informasi tersebut kepada pilot dan maskapai penerbangan,” kata Avirianto.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan setiap penerbangan memperoleh informasi terkini yang dibutuhkan dalam menentukan keputusan operasional, dengan tetap menempatkan keselamatan penerbangan sebagai prioritas utama.

More articles

Latest article